Selasa, 19 Februari 2013

Rindu Liga Indonesia

Entah sudah berapa lama liga Indonesia telah usai. Yang jelas hal itu telah membuat rindu para pecinta sepakbola Indonesia, supporter tim , maupun para pemain yang terbiasa menikmati persaingan ketat di lapangan. Kerinduan yang “menggebu” ini ternyata telah dilirik oleh stasiun televise swasta untuk menyiarkan ulang pertandingan-pertandingan seru ISL. Ya sejenak hal itu bisa mengobati sebuah rasa rindu. Ibarat pacaran para pecinta sepakbola Indonesia sedang bernostaliga menikmati pertandingan demi pertandingan yang tersaji di musim kemarin. Tapi, bukankah hal itu miris sekali?
Sistem kompetisi di Indonesia yang “acakdul” dan kadang sering gegabah dalam menentukan periode sebuah liga bergulir mengakibatkan sepakbola Indonesia terasa belum professional. Jadwal kapan saja bisa berubah sesuai kondisi yang sedang hangat disekitar lingkungan sepakbola. Salah satu contoh adalah ketika sebuah kota atau daerah sedang memiliki hajat Pemilukada. Seperti yang dirasakan Persija ISL musim kemarin. Mereka harus berpindah-pindah dari satu stadion ke stadion lainnya karena untuk sementara tidak boleh bermain di Jakarta.
Jika kita berkaca dari kompetisi elit di benua Eropa seprti liga Inggris, liga Italia, Spanyol dan lain-lain hal itu sungguh sangat kontradiktif. Liga – liga di Eropa memiliki jadwal kompetisi yang teratur dan professional. Bahkan jadwal musim berikutnya telah bisa diketahui saat satu musim sebelumnya . Hal itu berdampak positif dalam menejemen tim, khususnya dalam bidan pengurusan finansial tim. Mereka (liga-liga Eropa) mampu membuat tim peserta kompetisi merasa nyaman dalam hal menejemen pengelolaan finasial. Tim-tim tersebut paham kapan harus mengontrak pemain, dan kapan harus melepasnya.
Hal tersebut berbeda sekali dengan kondisi liga Indoensia. Jadwal yang tidak jelas dan cenderung terkesan simpang siur mengakibatkan tim-tim kebingungan dalam hal mengontark pemain. Dengan kondisi finasial yang angin-anginan karena kesulitan dalam mendatangkan sponsor, maka tim-tim di Indonesia hanya berani memberikan kontrak jangka pendek. Antara satu hingga dua tahun.
PSSI harusnya membuat sebuah jadwal kompetisi yang memiliki sinkronisasi yang baik dengan agenda dan kegiatan AFF maupun AFC. Sehingga tercipta sebuah kondisi yang harmonis. Bukan malah seperti sekarang. Agenda AFF Cup secara langsung maupun tidak langsung telah membuat kompetisi sepakbola di Indoensia mati suri. Hal itu dikarenakan jeda kompetisi yang begitu sangat lama. Hal ini juga berefek negatif terhadap pesepakbola kelas menengah yang menggantungkan hidupnya dari kompetisi liga Indonesia. Dengan kondisi tidak adanya tim yang mengontrak si pemain. Mau tak mau pemain harus mencari pekerjaan lain untuk mengidupi keluarganya.
Dalam kondisi seperti ini, tidak ada salahnya kita berromantisme dengan masa lalu. Di saat era kepemimpinan Soekarno. Soekarno memiliki konsistensi dalam membangun iklim sepakbola yang kompetitif di Indonesia. Pada masa Orde Lama, Soekarno benar-benar menaruh perhatian yang besar kepada sepakbola Indonesia. Untuk sekarang, sosok pemimpin bangsa ini rasa-rasanya kurang menaruh perhatian terhadap sepakbola Indonesia. Padahal Sepakbola merupakan olahraga yang dimana harga diri sebuah negara dipertaruhkan.
Melihat kejadian ketika ketua PSSInya Senegal mengundurkan diri pasca kericuhan pertandinagan Senegal Vs Pantai gaduing diajang pra World Cup 2014. Pemimpin PSSI di Indonesia maupun presiden agaknya perlu belajar bagaimana penerapan sebuah tanggung jawab. Setidaknya untul saling legowo dan menyatukan pikiran dan tenaga untuk membangun sepakbola Indonesia.
Rakyat Indonesia telah rindu aktraksi para seniman sepakbola di stadion-tadion yang berada diseluruh kota di Indonesi. Rindu menghangatkan bangku tribun stadion. Rindu bernyanyi yel-yel yang unik. Rindu sepakbola Indonesia.

Galau Berujung Domino

Istilah kata galau begitu sangat populer dan sangat fenomenal pada saat ini. Entah darimana datangnya, tapi istilah kata galau begitu sangat diterima oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Istilah galau sendiri jika di cari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kita tidak akan menemukan artinya, mungkin karena ini masih menjadi sebuah istilah baru. Galau kadang diartikan sebagai sebuah kondisi yang tidak menentu,bimbang ataupun gundah gulana.
Begitupun senada dengan PSSI selama beberapa tahun terakhir ini, sedang mengalami kegalauan yang begitu akut. Kegalauan sebuah organisasi yang bahkan secara usia lebih tua dari negara ini. Sebelum negara ini diproklamirkan oleh para founding father semacam Sukarno Hatta, PSSI sudah berdiri tegak menyongsong masa depan. Sebenarnya kegalauan PSSI itu sederhana. Ingin membentuk sebuah organisasi yang sehat yang nanti “goalnya” adalah sebuah prestasi yang mentereng dan bisa dibanggakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Ketika prestasi itu hadir maka rakyat Indonesia bakal bilang “ Ini lho Indonesia!”.
Awal kegalauan yang berhubung efek domino yang begitu panjang ini sebenarnya sangat sederhana. Munculnya letupan – letupan letupan ketidakpuasan terhadap kinerja dari lini per lini dinasti Nurdin Halid memaksa terjadinya sebuah kudeta revolusi kepengurusan PSSI. Dan akhirnya memunculkan rezim Djohar Arifin cs ke kasta tertinggi pemangku organisasi yang begitu populer di negeri ini. Ternyata dengan terpilihnya Djohar belum mampu mengakhiri kegalauan PSSI, malah timbul galau-galau baru yang akhirnya menimbulkan sebuah fase benang kusut dalam tubuh PSSI. Sangat sulit diurai dan begitu silang sengkarut. Lahirlah berbagai macam polemik yang melilit kaki kancah persepakbolaan Indonesia terpaksa membawa persepakbolaan Indonesia jalan di tempat bahkan beisa dikatakan mundur. Alhasil muncul suara sumbang dari para individu maupun kelompok yang menyatakan diri mereka dengan simbol yang peduli akan masa depan PSSI. Munculnya PSSI tandingan hasil musyawarah Ancol yang diprakarsai oleh KPSI yang katanya akan mneyelamatkan sepakbola Indonesia. Terpilihlah sosok yang begitu vokal mengkritisi kinerja dinasti Djohar Arifin, yaitu sosok La Nyalla Mattaliti.
Bayangkan dalam sebuah negara memiliki dua organisasi yang sama-sama merasa sah membawahi sepakbola di Indonesia, aneh bin ajaib bukan? . Timnaspun dipaksa menjadi dua kubu, timnas versi PSSI Solo yang mayoritas garnisunnya berasal dari kompetisi primer dan Timnas yang para punggawanya berasal dari kompetisi super. Alhasil yang terjadi adalah degradasi prestasi, kompetisi, maupun simpati supporter Indonesia. Berkaca dari event terakhir yaitu SCTV cup, Timnas kita galau total. Kita dipecundangi oleh Malaysia muda dan Korea Utara. Kinerja transisi antar lini dalam turnamen ini begitu buruk. Ini adalah sebuah hasil dari kompleksitas kompetisi yang secara kualitas mengalami degradasi. Efek domino ini menghasilkan implikasi yang sangat luas. Bagi sebuah Timnas yang sebelum mengalami masa galau selalu didukung ratusan ribu suporternya kini seperti bermain dalam sebuah partai usiran, minim supporter !. Para petinggi sepakbola Indonesia sendiri yang mengusir suporternya dari stadion, ya cara mengusirnya sederhana. Hanya dengan membuat iklim persepakbolaan di Indonesia menjadi sengkarut maka stadion seperti rumah kosong . Gampang bukan?
Selanjutnya PON pun terasa diaduk-aduk oleh para petinggi PSSI. Cabang sepakbola dan futsal pun terkena imbasnya. Ironis sekali, sebuah ajang besar diancam akan diboikot PSSI. Padahal tak jarang ajang ini melahirkan para bintang-bintang yang membela tanah airnya. Sebut saja Oktavianus maniani dan Yoshua Pahabol sebagai produk keluaran cabang sepakbola PON. Sangat aneh bukan?
Lama – lama masyarakat pecinta sepakbola maupun supporter Indonesia bakal apatis dan apriori dengan kondisi sepakbola di negaranya sendiri. Padahal olahraga ini begitu sangat pop di negeri ini. Yang ada sekarang hanyalah kata bosan, bosan, dan bosan. Mungkin jika terus seperti ini lapangan-lapangan rumput di desa-desa bakal sangat lesu dari gairah atmosfer sepakbola. Efek domino yang lebih parah adalah hilangya idola-idola sepakbola Indonesia karena terganti dengan maskot semisal Cristiano Ronaldo, Lionel Messi maupun Wayne Rooney . Hal ini bakal berimplikasi negative terhadap semangat nasionalisme anak-anak Indonesia, bahkan akan mampu merongrong kedaulatan tanah air. Seharusnya para petinggi sepakbola Indonesia sadar akan masalah kegalauan akut ini.
Terakhir adalah hal yang begitu miris saya rasakan ketika ada anak di desa saya yang berucap “ saya sudah bosan melihat timnas Indonesia yang jelek mainnya, mas. Mending nonton liga inggris apa liga spanyol!”, mencengangkan. Pernyataan ini pasti mewakili anak-anak diseluruh negeri ini yang rindu akan prestasi bangsanya. Bukan menjadi sebuah negeri pemimpi yang tak tahu kapan mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Sekali lagi, ironis !

Belajar dari Merger “Galatama dan Perserikatan”

Kompetisi Liga Indonesia musim depan masih menggunakan format baku ISL dan IPL. Ini merupakan buntut dari gagalnya negosiasi gunakan menemukan rekonsiliasi sebuah bentuk liga yang manunggal. Memang wacana mengenai format liga Indonesia yang baru dan segar telah di munculkan kepermukaan oleh CEO PT LPIS Widjajanto. Tapi hal itu masih berupa wacana yang menemukan tembok tebal nan tangguh dan susah ditembus.
Jika memang masih menggunakan format dua kompetisi, polemik lama yang mengorbit selama satu musim terakhir kelihatannya akan terus mengorbit. Salah satu problem menonjol yang dialami Liga Indonesia versi IPL adalah matinya pasar supporter tim tim yang bernaung dibawah panji – panji profesionalitas yang selama ini digaungkan oleh pengelola. Tak bisa di pungkiri supporter merupakan salah satu sektor yang menjaga kestabilan finasial sebuah tim. Analoginya seperti ini, semakin banyak supporter yang dating kestadion, semakin besar pendapatan tim.
Jika regulasi legal kedua kompetisi ini tetap berjalan. Hadir kemungkinan untuk tim-tim IPL berlabuh kedalam panji-panji ISL. Terakhir sebut saja Semen Padang dan Laskar Kalinyamat “Persijap” yang menyatakan ketertarikan untuk menempati rumah lama ynag telah mereka tinggalkan. Maka jika hal ini terjadi, musibah telah menimpa IPL. Dengan begitu IPL bakal kekurangan tim yang mengikuti kompetisi. Belum ada tim-tim ISL yang mengutarakan diri untuk masuk dalam lingkup spasial IPL.
Jalan terbaik dari kegalauan ini adalah dengan bergabungnya ISL dan IPL dalam sebuah liga yang manunggal dan professional. Jika kita tarik kebelakang, kejadina serupa tetapi tidak sama telah dilalui oleh PSSI. Hal tesebut merupakan peristiwa bersatunya dua kompetisi di Indonesia dalam satu kompetisi baru. Kala itu, kompetisi semi professional bernama “Galatama” bergabung dengan kompetisi perserikatan dalam bentuk format yang baru. Hasilnyapun tak mengecewakan. Kompetisi gabungan itu mampu berjalan lancar.
Galatama hadir sebagai sebuah hasil keprihatinan akan prestasi timnas yang merosot pada tahun 1970an. Para pengamat sepakbola Indonesia sekelas Kadir Yusuf, Nabon Noor, dan Sutiono J Alis mengusulkan agar dijalankannya sebuah liga yang semi professional. Maka terciptalah Galatama atas bantuan pengusaha sekelas Sigit Harjoyudanto pada tahun 1979. Peserta kompetisi ini berbeda dengan kompetisi perserikatan yang telah berjalan terlebih dahulu. Galatama diikuti oleh tim-tim bentukan perusahaan dan terlepas dari pendanaan pemerintah. Sebut saja Warna Agung, Jayakarta, Indonesia Muda, Arseto Solo, Tunas Inti, Cahaya Kita, Pelita Jaya,Niac Jaya, Petrikimia Gresik, Perkesa 78, Tidar Sakti dan lain-lain. Sedangkan Perserikatan konsisten dengan nama-nama Persis Solo, PSIM, Persebaya, PSIS dan lain-lain.
Kompetisi Galatama dan Perserikatan kala itu juga mengantongi legalitas seperti kasus ISL dan IPL sekarang. Tapi yang membedakan kala itu masih tetap sama dalam panji-panji PSSI, bukan seperti sekarang.Toh ketika kedua liga ini digabung pada periode kompetisi 1994, tim-tim yang berlaga juga mampu menerima dengan lapang dada sebuah kompetisi baru dan segar.
Harusnya para petinggi PSSI belajar dari sejarah masa lampau. Peristiwa Merger damai anatara Galatama dengan Perserikatan. Memang kala 1994, kondisi PSSI berbeda dengan sekarang. Tapi setidaknya ada sebuah kesamaan dimana dua kompetisi legal di Tanah Air ini mampu di akomodasi dalam sebuah liga baru.
Masih banyak hal penting yang harus dibenahi para pemangku organisasi sepakbola di negeri ini. Bukan melulu berkutat dengan dualisme organisasi, kompetisi, dan timnas. Pembibitan generasi-generasi muda haru segera diperhatikan, kalau tidak, pada level sekelas Asia tenggara pun Mantan Macan Asia ini bakal ompong. Setidaknya jika PSSI mau mengkahiri polemik liga ini, maka mereka telah menyelesaikan satu pekerjaan. Itu artinya telah member harapan baru untuk sepakbola Indonesia. Harapan baru untuk sebuah kejayaan.
Namun jika hal ini tidak segera diatasi, malah akan menjadi bom waktu yang akan meledakan dan membunuh prestasi Indonesia. Analoginya sederhana, jika Galatama dan era Perserikatan bisa disatukan, kenapa ISL dan IPL tidak bisa?

TIMNAS PANTAS UNTUK DIPERTAHANKAN.

Ketika timnas kita kalah 2-0 oleh Malaysia, maka berakhrilah sudah petualangan Indonesia dalam ajang AFF cup 2012. Tapi setidaknya ada hal positif yang harus disyukuri selama petualangan di AFF cup ini. Kita disuguhkan oleh semangat patriotisme membela tanah air yang begitu menggelora hingga menit akhir pertandingan. Walaupun mayoritas para pasukan yang dinahkodai oleh Nil Maizar ini minim jam terbang dalam membela Indonesia di ajang Internasional. Tim ini juga patut dipertahankan untuk laga-laga timnas berikutnya. Mungkin dengan menambah beberapa pemain baru akan membuat tim ini lebih kuat. Yang Jelas tiki-taka mulai berjalan halus dan umpan-umpan lambung mulai diminimalisir. Salut untuk para punggawa garuda. Mereka mampu menunjukan gelora pejuang ditengah kemelut sepakbola Indonesia. Semoga saja dalam kualifikasi Piala Asia yang berlangsung mulai bulan Februari 2013, timna s mampu berbicara banyak menghadapi tim-tim sekelas Irak, Arab Saudi, dan Cina.
Bravo Sepakbola Indonesia

Duka Sepakbola Indonesia

Setelah beberapa bulan yang lalu, Bruno Zandonadi, mantan pemain Persikota Tangerang meninggal dunia dalam keadaan sakit. Berita buruk itu terulang kembali, selasa (4/12), Langit mendung menanungi sepkbola Indonesia ketika Diego Mendieta menghembuskan nafas terakhirnya di RS Dr. Moewardi Solo. Ironis sekali, pemain berusia 31 tahun ini meninggal dalam keadaan gajinya yang belum dilunais oleh mantan klubnya, Persis Solo versi LI. Berita ini pantas menjadi cambukan bagi para petinggi sepakbola Indonesia baik PSSI maupun KPSI. Manuver dan kengototan mereka menimbulkan efek kompleks dan menyeluruh bagi sepakbola Indonesia. Harusnya para petinggi itu sadra bahwa keegoisan mereka menimbulkan malapetaka bagi orang-orang yang mencari nafkah lewatt sepakbola. Tim-tim yang berlaga di ISL maupun IPL kesulitan dalam mendapatkan pendanaan. Alhasil tunggakan gaji menjadi endapan terakhir yang ditimbulkan dari kemelut itu. Semoga Diego menjadi yang terakhir. Selamat jalan Diego, selamat berpulang dengan damai ke Paraguay !

Makassar- Australia : Sebuah Hubungan Melalui Sistem Maritim

Awalnya, berita tertua yang mencatat perjalanan berupa pelayaran orang-orang Bugis ke Australia menurut A.A Cense adalah berupa pengetahuan yang dia temukan melalui laporan perjalanan yang diterbitkan oleh Alexander Darlymple pada tahun 1788. Pedagang Inggris itu mengatakan mengenai pelayaran-pelayaran yang sangat jauh telah dilakukan oleh oran Bugis. Pelayaran tersebut mencakup Papua dan New Holland (Australia). Tetapi fakta tersebut tidaklah cukup kuat dan cenderung membesar-besarkan menurut A A Cense.
Berita yang lebih meyakinkan mengenai pelayaran orang Bugis dan Makassar ke Australia di dapatkan dari Thomas Forrest. Forrest menjelaskan mengenai motif pelayaran orang-orang Bugis ke Pantai Utara Australia yang kemungkinan besar adalah teluk Carpentaria adalah untuk mencari tripang. Kapal-kapal Cina yang menjadi tengkulak tripang biasanya siap menampung hasil buruan mereka. Berita dari Thomas Forrest juga menyinggung adanya emas di wilayah Australia bagian utara.
Berita yang kedua yang meyakinkan A A Cense adalah penjelasan dari Matthew Flinders. Flinders mengunjungi Australia pada tahun 1802 dan 1803. Kunjungan tersebut difokuskan pada wilayah pantai utara Australia dan teluk Carpentaria. Dalam penyelidikan Flinders, dirinya menemukan bukti-bukti bahwa pengaruh-pengaruh asing telah muncul diwilayah tersebut. Adanay beberapa pohon yang ditebang menggunakan kapak dan ditemukannya pecahan-pecahan kendi diwilayah tersebut. Di beberapa pulau kecil Flinders menemukan bukti-bukti berupa adanya topi anyaman bambu, topi daun palma yang dijahit menggunakan benang, kapas bekas celana dan bagian-bagian dari tubuh kapal yang diletakan di wilayah itu semakin mengkuatkan bahwa ada pengaruh asing diwilayah pantai utara Australia. Flinders pada 17 Februari 1803, megalami pertempuran dengan enam buah kapal melayu. Setelah dilakukan perundingan diketahui bahwa kapal-kapal melayu itu berasal dai Sulawesi Selatan. Menurut salah satu informan yang berasal dari kapal-kapal melayu yang bernama Pobassoo, dijelaskan bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok besar yang terdiri dari enampuluh kapal yang khusus berlayar ke pantai utara Australia dan teluk Carpentaria untuk mencari tripang. Kelopok besar tersebut dipimpin oleh Sallo dibawah perintah kerajaan Bugis. Sistem yangdilakukan kelompk besar itu adalah menyebar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Pobassoo dalam jangka waktu 20 tahun telah melakukan pelayaran ke pantai utara Asutralia dan sekitar teluk Carpentaria dengan tujuan serupa sebanyak 6-7 kali.
Ketika Flinders melakukan pelayaran di sekitar Kupang, dia menemukan Informasi mengenai kelompok pencari tripang yang Berasal dari Bugis dan Makassar dai penduduk setempat. Informasi yang didapat Pobasso adalah bahwa orang-oran Bugis juga pernah mencari tripang diwilayah pulau Rote dan Jawa. Setekah pelayarn di wilayah Rote dan Jawa, kapal-kapal bugis tersebut berlayar ke pantai utara Australia yang memiliki tripang dalam jumlah yang massive.
Pada tahun 1803 wilayah pantai utara Australia diteliti oleh Perancis. Berdasarkan dari keterangan F. Peron dan L. Freyncinet bahwa pada bulan April 1803 telah terjadi perjumpaan dengan kapal-kapal Melayu yang berjumlah sekitar 24 atau 26 kapal di dekat pulau Cassini. Selanjutnya , perjalanan –perjalanan yang dilakukan Philip P. King ( 1818-1822) menemukan kapal Melayu disekitar pualau Sims yang mencari tripang. King kemudian menggunakan kunjungan ke kupang untuk mencari informasi lebih jauh mengenai pencarian tripang yang dilakukan oleh kapal-kapai Bugis. Didapatkan Informasi dai Doramang bahwa setelah tiba diperairan Australia , kapal-kapal tersebut berlayar menuju kearah timur dengan meninggalakan 15 atau 16 perahu diwilayah tersebut.
Baron van der Capellen dalam catatan hariannya tentang para pedagang tripang dari Makassar menyebutkan bahwa para pedagang tersebut mengunjngi Australia sejak lama , bahkan sejaka Belanda belum mengunjungi Makassar. Selain itu catatan terpenting lainnya adalah berita dari J.N. Vosmaer yang pada tahun 1831 dan 1834 mengunjungi Kendari. Disana terdapat Suku Bajo yang mengenal Tripang Marege ( berasal dari Australia bagian utara) dan Tripang Jawa.
Alhasil Kehidupan masyarakat Australia bagian utara sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya para penangkap tripang yang berasal dari Makassar. Pengaruhnya berupa teknik pembuatan kapal dengan menggunakan batang pohon dan dilengkapi layar merupakan teknik gaya Makassar. Kemudian adanya pohon asem yang ditanam oleh pencari tripang asal Makassar menjadi bukti yang jelas di lengkapi adanya barang-barang logam khas Makassar yang kemingkinan besar melalui proses barter sehingga barang-barang tersebut dapat menjadi milik warga pribumi Australia bagian utara. Dalam hal bahasa, bahasa yang sering digunakan suku-suku di Australia bagian utara dikenal dengan “pidgin Malay” ternyata banyak mengandung unsur bahasa Makassar. Dalam pembuatan nama, juga sering kali sedikit p\banak terpengaruh oleh nama-nama dari Makassar.

Sumber :
Cense, A dkk, Pelajaran dan Pengaruh Kebudajaan Makassar-Bugis di Pantai Utara Australia, Djakarta : Bharata, 1972

Menjamah Museum ketika Senja Menyapa

Bagaimana jika benda-benda koleksi sebuah museum mampu hidup ketika malam hari? Wow, pasti sangat menyeramkan bukan. Masih Ingat Film Night At The Museum yang pernah rilis melalui 2 seri? . Ya, Film yang menceritakan Larey Daley harus berhadapan dengan para makhluk penghuni museum yang bisa hidup ketika senja menyapa. Petualangan pun terjadi di dalam film ini. Sosok-sosok legendaris seperti Alberth Einsten, Napoleon, dan Abraham Lincoln menjadi teman akrab Larey ketika malam datang.
Di Yogyakarta, hal senama tapi berbeda konsep dihadirkan oleh para mahasiswa dari FIB UGM . Mereka adalah Ika Tantri , Erwin, Yayum, Ody dan Bachtiar membuat acara yang mampu dijadika sebagai wahana rekreasi alternatif bagi khalayak umum, khususnya generasi muda. Acara yang diberi nama Yogyakarta Night At The Museum ini merupakan sebuah acara yang sangat menarik. Mengunjungi museum ketika malam hari merupakan sebuah hal yang baru.
Biasanya museum dibuka pada jam-jam kunjungan siang. Tapi Yogyakarta Night At The Museum ini membuat kunjungan lebih mengasyikan karena melawan patron kebiasaan. Lokasi yang digunakan adalah Museum Benteng Vredeburg. Museum yang berlokasi di jantung kota Jogja ini merupakan sebuah kawasan yang strategis karena tersinkronisasi dengan tempat wisata lain. Antara lain Malioboro, Taman Pintar , dan Keraton Yogyakarta.
Kegiatan kunjungan sendiri telah dilakukan sebanyak lima kloter. Dari masa ke masa peminat kunjungan ini mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat,” bahkan pernah ada peminat yang datang dari Jakarta” tutur Ika Tantri ketika diwawancarai. Dalam paket wisata ini para peserta juga mendapatkan konsumsi. Mayoritas para peminatnya selama ini adalah generasi muda dan mahasiswa, baik s1 maupun s2.
Acara ini merupakan sebuah trobosan yang postif untuk menumbuhkan minat masyarakat Indonesia untuk mengunjungi dan melestarikan museum. Bukankah Bung Karno pernah berucap “ Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah !” . Museum merupakan tempat untuk menjaga memori kolektif bangsa ini. Selain itu juga merupakan media pendongeng untuk anak cucu kita agar tidak amnesia terhadap masa lalu.